Rindu arung jeram akhirnya tuntas. Usai menelusuri kembali sungai Cicatih di Jawa Barat. Bagaimana tidak? Cicatih merupakan salah satu sungai terdahsyat di Jawa Barat, yang bisa dengan mudah diarungi, karena banyak operator arung jeram yang menawarkan trip disana.
Awalnya lagi kebingunan. Mau pergi liburan kemana akhir tahun ini? Mau pergi kemana-mana juga sebenarnya malas. Mengingat hujan mungkin saja turun, membuyarkan semua keasyikan liburan.
Sampai akhirnya seorang teman mengajak arung jeram. Menurutnya olahraga ekstrem ini sangat cocok dilakukan, justru saat musim hujan. Kenapa? Airnya banyak. Jadi kemungkinan merasakan perahu macet diantara bebatuan, karena air sungai terlalu kering, bisa jadi tak akan ada.
Pikir-pikir, benar jyga teman saya itu. Berulangkali sebenarnya pernah merasakan berarung jeram. Yang paling enak, memang saat air sedang berlimpah saat musim hujan. Jeram-jeram jadi seperti lancar dilewati. Beda saat musim kering. Seringnya perahu macet di batu. Keasyikan juga jadi berkurang, karena terlalu sering macet.
"Kalau musim hujan juga seru bro. Jeramnya gede, bikin tambah deg-degan. Tapi emang itu yang kita cari kan?", semburnya bersemangat.
Saya tertawa saja. Memang benar yang dia katakan. Dan persetujuan saya dibuktikan dengan kehadiran dipinggir sungai Cicatih ini lagi.
Gimana ke Cicatih?
Sebetulnya tak sulit kalau mau ke sungai Cicatih. Kalau dari Jakarta, tinggal melaju ke jalan raya Sukabumi. Nanti dipertigaan pasar Cibadak, ambil jalan ke arah Pelabuhan Ratu.
Ikuti saja terus jalan ke Pelabuhan Ratu, hingga mencapai jembatan Ubrug. Dulu di bawah jembatan ini awal pengarungan di sungai Cicatih dilakukan. Tapi terakhir, lokasi start berpindah ke daerah Bojongkerta. Lokasinya tak jauh dari Ubrug, tinggal terus saja mengikuti jalan ke Pelabuhan Ratu.
Tak lama pasti akan melihat deretan spanduk atau papan nama operator arung jeram yang menjual trip di Cicatih. Ada beberapa operator, tapi yang paling lama adalah Riam Jeram dan Cheeroke.
Jeram Cicatih
Daerah Bojongkerta sebenarnya merupakan lubuk besar dipinggir sungai Cicatih. Setelah lubuk itu, biasanya operator menurunkan perahu karet. Bisa berderet-deret perahu, bila pengunjung banyak datang di akhir pekan.
Pengarungan diawali dengan daerah bebatuan. Kalau musim hujan, batu-batu jadi hilang. Air melewati atas batuan, menjafi gelombang-gelombang kecil, yang menyenangkan untuk pemanasan.
Tak banyak jeram berbahaya, sampai akhirnya menemukan jeram Kopi. Sebuah belokan ke kanan, dengan patahan arus sempit menabrak tebing. Kalau musim hujan, melewati jeram ini justru jadi menyenangkan. Karena perahu bisa berkelit diantara batuan besar. Kemudian mengikuti arus yang mengombang-ambing perahu, dan menghentak di ujung jeram.
Setelah jeram kopi, ada jeram Naga menghadang. Uniknya jeram Naga, tersembunyi dibelakang batuan besar. Hanya suara arus besar yang terdengar menderu-deru. Disini juga biasanya operator bersiaga penuh. Tapi kondisi penuh kecemasan itu, malah membuat adrenalin tambah melonjak.
Ternyata jeram Naga, hanya kelokan kecil dengan patahan pendek di ujung jeram. Namun patahan itu, makin terasa beaar bila air bertambah banyak. Bisa membuat jungkir balik orang-orang didalam perahu, saat melewatinya.
Setelah jeram Naga, masih ada jeram Jontor dan Zig-zag. Keduanya tak terlalu sulit, tapi mendebarkan juga. Sebelum akhirnya menemui lokasi untuk beristirahat.
Jeram-jeram akan makin terasa menggila, usai lokasi makan siang. Mungkin karena penampang pinggir sungai yang tiba-tiba menyempit. Tertinggal hanya tebing-tebing di sisi kiri dan kanan.
Salah satu yang terbesar merupakan jeram Gigi. Sebuah lintasan arus dengan gradien penurunan diagonal tak rata. Air keseluruhan berada di tengah sungai. Membentuk gelombang-gelombang besar, yang diakhir dengan patahan dengan batu besar menhadang didepannya.
Biasanya yang terasa saat melewati jeram ini hanya teriakan-teriakan saja. Antara teriakan skipper atau kapten kapal dibelakang yang memberi perintah, bercampur dengan teriakan ngeri-ngeri sedap dari peserta pengarungan.
Perahu memang akan terasa bergoyang keras saat melewati jeram ini. Lalu tiba-tiba seperti dihempaskan ke air terjun kecil, dengan batu besar yang siap ditubruk. Kalau sial, bisa saja terbalik dibatu besar ini, karena dorongan arus dari belakang.
Cobaan belum berakhir. Masih ada jeram Roller Coaster setelahnya. Jeram yang membuat perahu seperti oleng ke kiri dan kanan. Kemudian menghujam tajam aliran air dibelakang batu besar.
Pemandangan setelah jeram Roller Coaster akan terlihat mencekam. Tebing tinggi dikiri dan kanan sungai. Seperti tak ada jalan untuk keluar bila ada masalah. Piluhan satu-satunya meneruskan petjalanan kedepan.
Untunglah setelah satu kelokan, kompleks tebing akan berakhir dipermulaan jeram Never Ever Ends. Dinamakan seperti itu, karena memang sepertinya jeram tak ada henti-hentinya menggoyang perahu. Kadang jeram terasa beaar, kadang seprrti miring, lalu tiba-tiba ada jeram setinggi kepala disebelah perahu.
Sampai akhirnya menemukan daerah pertemuan sungai antara Cicatih dan Cimandiri. Sebenarnya daerah ini sudah dekat dengan titik finish pengarungan, tapi jeram yang dihadirkan justru lebih besar lagi, karena kumpulan pertemuan dua air sungai.
Satu yang paling besar dinamakan jeram Maskot. Sesuai dengan namanya, jeram ini memang terasa yang paling besar saat melewatinya. Perahu seperti akan berguling ketika melintasi gelombang ombak jeram Maskot. Bisa berulang kali seperti iru. Sampai akhirnya menemukan sebuah batu beaar dipinggir sungai, yang akan meredam aliran air, dan membelokannya menjafi lebih tenang.
Setelah jeram Maskot, masih ada jeram Harga Diri. Jeram tak terlalu beaar namun menjebak, karena memiliki arus putar didalamnya. Cukup menjadi jeram penutup pengarungan disalah satu sungai terdahsyat di Jawa Barat ini.
Comments
Post a Comment